numberthreeme

Mostly about Jakarta, and everything in between

Sulitnya mengukur ‘harga’ sebuah kearifan lokal

Setelah liburan kilat di Sulawesi saya entah gimana kepengin belajar antropologi. Ilmu tentang manusia dan budayanya beneran bisa membuka mata soal eksistensi hidup selama ini. Ditambah lagi tiba-tiba sebuah artikel ciamik mendarat di timeline Facebook saya. Ditulis oleh Butet Manurung si penggagas Sakola Rimba tentang pemahaman yang kerap keliru soal primitif/tidak primitif, miskin/kaya, ditinjau dari segi kearifan lokal dan pengalaman beliau selama puluhan tahun di pelosok negeri. Selengkapnya bisa baca di sini

Kearifan lokal semakin terasa masuk akal ketika saya mengunjungi daerah-daerah di luar pulau Jawa. Iya, di luar pulau Jawa. Atau ya daerah adat yang masih memegang teguh ajaran leluhurnya. Ajaran tentang bagaimana hidup selaras dengan alam, menjadi fleksibel mengikuti segala ‘aturan’ daerah tempatnya bermukim.

Suku Kajang: Hidup selaras tanpa alas kaki

bangunan sekolah di suku kajang bulukumba

Kalau kamu dengar kalimat “hidup tanpa alas kaki” rasanya terdengar primitif sekali, ya? Ih nanti kalau ketusuk duri bagaimana, kakinya kotor kena lumpur bagaimana, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal, standar kita yang selama ini salah.

Manusia hidup menyesuaikan alam. Dengan menolak segala peradaban modern, termasuk sepatu, suku Kajang damai-damai saja tuh. Mereka menyesuaikan lingkungan agar bisa bertahan tanpa ‘barang-barang artifisial’. Hidup tanpa kemelekatan.

Karena mereka sadar selalu berjalan tanpa sepatu maka jalanan kampung dibuat ramah pejalan kaki. Tidak buang sampah di tengah jalan, menyusun batu-batu kecil untuk alas kaki menapak (baca: jalanan), bagian depan rumah diletakkan bak air cuci tempat membilas kaki. Hasilnya? Kaki mereka senantiasa sehat dan satu hal yang saya kagumi: kaki mereka bersih. Tidak ada yang hitam kotor apalagi jorok.

 Sekarang, siapa yang kampungan? Mereka atau kita yang mengaku orang kota?

Suku Toraja: Milyaran rupiah untuk merayakan kematian

kerbau di pasar bolu toraja utara

Nah, ini yang saya tidak mengerti. Sebagai pekerja kantoran baru lulus kemarin sore katakanlah kamu punya gaji Rp 5 juta per bulan. Uang segitu habis untuk bayar kosan/kontrakan, uang makan, transportasi, cicilan mobil/motor, dan lainnya. Lalu, bagaimana orang Toraja – yang katanya petani kampung – bisa punya uang ratusan juta hingga milyaran rupiah hanya untuk merayakan kematian. Pertanyaannya, uang dari mana?

Oh iya, perlu kita ketahui untuk pesta kematian di Toraja ada hal wajib yang harus disiapkan. Salah satunya: kerbau. Puluhan kerbau harus disiapkan dengan beragam kriteria. Harga satu kerbau di Toraja itu paling murah Rp 90 juta. Itu pakai uang semua. Pertanyaannya, uang dari mana?

Milyaran rupiah itu jadi tidak jelas ukurannya ketika segala hal pada awalnya dinilai dengan kerbau di Toraja. Satu milyar? Kata siapa? Kata rupiah, menurut standar Bank Indonesia. Persoalannya, di Toraja pengukuran nilai mata uang sejak dulu dihitung dengan kerbau. Makanya kerbau tinggi nilainya karena kebutuhan dan ‘kesepakatan’ masyarakat lokal Toraja. Mengumpulkan satu milyar menurut saya mungkin jika kamu hidup di Toraja. Dengan standar Toraja, dengan cara pandang nilai kehidupan seperti orang Toraja.

Karena sadar betul kalau kematian adalah satu-satunya hal yang pasti maka sebanyak apa pun uang rupiah yang dipunya, akan disimpan untuk pesta kematian. Mereka hidup biasa saja, secukupnya. Tidak konsumtif. Tidak merasa perlu beli gadget keluaran terbaru karena pesta kematian satu milyar lebih penting dari apa pun.

Sekarang, siapa yang kaya? Siapa yang miskin? Mereka atau kita yang mengaku orang kota?

Advertisements

One comment on “Sulitnya mengukur ‘harga’ sebuah kearifan lokal

  1. andreas
    October 2, 2017

    wah bagus banget nih artikel nya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 1, 2017 by in Kajang, Sulawesi Selatan, Travel and tagged , , .

Categories

Posted!

Blogs I Follow

NGENDONESIA

hanya obrolan kala senggang dalam bungkus tulisan

TIME

Current & Breaking News | National & World Updates

dianagustinaphotography

Let's smile and spread it to the world

Mikaila Acelin S

Stop wishing, start doing!

itsmydecember

the new journalist

Alief Workshop

Opini & Sharing Jujur dari Seorang Nubie

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

gelaph [dot] com

You'll Never Cherish Saturday If You Never Meet Monday

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: