numberthreeme

Mostly about Jakarta, and everything in between

I Saw You

Aku melihat kamu. Deg. You are my friend, a very good friend. Sempat punya mimpi yang sama denganmu, Nu.

I saw you on youtube video. You became cameo on indie band video clip. You sat on comfy couch, was smoking there. Three second. Only three second and my mind is traveling around now.

Aku serasa ditarik ke masa lalu. Makan siang bareng. Kamu makan nasi goreng teri dengan garnish timun dan tomat plus telur orak-orak yang terlihat berserakan di antara nasi-nasi gurih di piring makanmu. Aku cuma pesan orange juice. Alasanku yang tidak pernah kukatakan padamu karena khawatir kekenyangan dan terlihat bodoh. Haha. Silly me. Oh iya, kita split the bill. Aku terlalu gengsi untuk dibayari kamu saat itu.

Ada lagi. Kita ke Salemba, tempat Institut Prancis demi nonton film artsy. Ruangan bioskopnya kecil, cuma muat dua puluh orang. Enggak apa-apa, yang penting gratis. Maklum, kita ini mahasiswa. Harus ngirit. Hehe.

Aku ingat betul adegan di mana dua laki-laki sedang bertengkar telanjang dorong-dorongan dan berwarna putih abu-abu. Ini ternyata Q! Film Festival. Wah, aku nonton film gay sama kamu. Haha..

Kamu bilang,”Baru kali ini ketemu cewek kerudungan yang gila!” Kamu tertawa lebar sekali. Renyah. Khas kamu.

Kemudian tahun-tahun terakhir kelulusan kita, kamu ke sana, aku ke sini. Kita masing-masing. Impian untuk mencipta komunitas film pertama di kampus kita sudah entah hilang ke mana. Aku fokus dengan perkuliahan di kelas sedangkan kamu…aku tak tahu. Sepertinya masih mondar-mandir antara Kansas dan stasiun kereta. Kamu terlihat sibuk berjejaring di luar sana.

Aku masih ingat saat pertama kali aku dan kawan-kawan mampir ke rumah nenekmu. Kamu berkata,”Ini! Gue tidur di sini!”

Sebuah sofa tua, ngepas badan, dengan kaos bekas pakai yang disampir di sisinya.

“Enggak ada kasur, Nu?”

“Enggak,” jawabmu begitu lugas.

Saat itu ada rasa lain yang sulit terungkap dengan kata-kata. Kok sepertinya aku naksir kamu? Atau kamu naksir aku? *eh.. Intinya kamu menunjukkan sisi dirimu yang sebenarnya. Sisi Ibnu yang lain. Sisi yang mungkin pahit. Sisi manusia enggak ada pemanis.

Kamu akan selalu aku rindukan. Sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai inspirasi kalau jiwa muda itu abadi meski fisik telah mati. Bahagia selalu ya, Nu. Doakan aku yang masih di sini. Aku ingin abadi, seperti kamu. Dalam ingatan, dalam pikiran, dalam kenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 27, 2017 by in Life.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 62 other followers

Categories

Posted!

Blogs I Follow

NGENDONESIA

hanya obrolan kala senggang dalam bungkus tulisan

TIME

Current & Breaking News | National & World Updates

dianagustinaphotography

Let's smile and spread it to the world

Mikaila Acelin S

Stop wishing, start doing!

itsmydecember

the new journalist

Alief Workshop

Opini & Sharing Jujur dari Seorang Nubie

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

gelaph [dot] com

You'll Never Cherish Saturday If You Never Meet Monday

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: