numberthreeme

Mostly about Jakarta, and everything in between

Cerita Angkot Eps. 1: Pernah Sekolah

Saya adalah penumpang setia angkot. Soalnya dari ujung ke ujung isinya cuma saya. Sendirian dalam gerah. Hahaa.. Tapi enggak apa-apa, toh bentar lagi juga sampai, kata saya mbatin. Hingga tiba-tiba,  Abang supir ngerem dilanjutkan dengan ngetem. Yah L

Ternyata Si Abang nunggu anak-anak kimcil bubaran sekolah. Anak SD petang yang pulang sekolah pukul dua siang. Rombongan anak-anak, satu-satu, dua-dua, bertiga, dan anak bersama Emak atau Bapaknya sudah kelihatan di ujung gang. Lima menit penuh, yes, kata Si Abang. Kayaknya sih Bang Supir bilang gitu. Hihi..

Oke lanjut. Saya perhatikan tampilan anak kimcil-kimcil ini. Kelihatannya sih baru kelas 1 SD, atau 2 SD. Seragam hari itu kebetulan putih merah. Atasan putih, bawahan merah. Kayak bendera Indonesia Raya.

Ada yang pakai kerudungan, rambutnya kemana-mana sambil pegang jajanan. Makannya belepotan. Duh.

Ada yang bawa tas punggung kebesaran. Naik angkot sambil makan. Lagi-lagi belepotan. Wajahnya keringetan. Duh (lagi).

Ada yang pindah-pindah tempat duduk sebelum penuh.

Ada yang bengong kecapekan. Ileran.

Ada yang duduk dipangku temannya. Biar hemat, kayaknya.

Ada yang kelihatan habis makan jajanan. Makanannya sih sudah enggak kelihatan tapi ada saos merah di kerah baju seragam. Ha! Kamu ketahuan!

Awalnya mikir. Ini anaknya siapa sih, lepek, keringetan, makan sambil jalan, belepotan. Ya ampun…

Itu pikiran saya dalam satu menit pertama. Menit berikutnya saya malah pengin ketawa. Tiba-tiba saja ingat sama diri sendiri. Saya kan pernah jadi anak SD, jangan-jangan penampakan saya zaman dulu persis kayak mereka? Waduh.

Hmm…jadi begini toh tampilan anak sekolah dasar. Setidaknya, mereka ini refleksi saya zaman kimcil. Pulang bareng teman-teman. Keringetan karena habis lari-larian. Enggak peduli penampilan. Laper ya tinggal jajan. Belepotan? Diliatin orang? Bodo amat.

Mereka semua turun di gang depan. Kompakan. Angkot langsung kosong. Saya ditinggal sendiri. Senyum-senyum sendiri.

Melanjutkan perjalanan

Selesai naik angkot, level saya naik sedikit. Dari level angkot omprengan beranjak ke level bus Scania Eropa yang ada CCTV-nya. Saya lanjut naik bus Transjakarta. Hehe. Lumayan ada AC beneran, air conditioning. No more gerah. Yes!

Saya berdiri dekat pintu, berseberangan dengan Mbak Kenek yang teriak di setiap halte.

“Halte Kebon Pala!” teriak Mbak Kenek.

Satu turun, tiga naik. Satu Ibu-ibu, tiga anak sekolahan. Sekolah Menengah Atas. Gadis remaja, lagi mekar-mekarnya. Mereka mirip. Kalau diperhatikan mereka ini bukan kakak-adik, bukan juga anak kembaran tapi gayanya mirip! Copy. Paste. Copy. Paste. Copy. Paste. Tiga kali duplikat.

Benda wajib: tas punggung ditambah tas kain alias tote bag kekinian. Ribet. Kebanyakan bawa buku sama printilan. Rambut panjang sebahu dikuncir kuda. Helai-helai rambut liar kayak habis diajak naik ojek kebut-kebutan. No make up. Punya smartphone taro kantong. Rok sepan baju ngepres badan. Pakai jaket OSIS. Wah, kelas 3 SMA nih? Soalnya senior.

Ngobrolnya sudah gue elo. Berdiri persis depan pintu keluar masuk bus, menghalangi jalan. Ngobrol asyik soal apa saja. Dari mulai cerita (gossip?) soal temannya hingga soal pelajaran tambahan esok harinya. Bebas. Karena dunia hanya milik mereka bertiga.

Hihi, saya senyum-senyum sendiri lagi. Jangan-jangan dulu saya ya kayak mereka ini. Duh. Gawat. Sepertinya sih iya. Minus jaket OSIS. Soalnya dulu bukan anak OSIS, enggak suka sama rapat-rapat. Oh iya, minus smartphone juga. Dunia digital zaman saya SMA masih mahal. Langka. Baru ada Nokia.

Naik transportasi umum itu murah. Dibayarnya pakai sabar. Serunya malah kalau ketemu yang begini ini. Berpapasan dengan manusia yang diam-diam saya perhatikan. Gerak-geriknya. Pakaiannya. Sepatunya. Cara bicaranya. Alisnya. Haha semuanya kena sama saya! Diam-diam otak saya ‘bekerja’. Mengarang cerita. Menebak-nebak. Mencuri dengar.

Bertemu anak-anak berseragam sore itu ada hikmahnya. Jadi banyak pertanyaan di kepala saya. Jangan-jangan tampilan saya dulu juga sama seperti anak-anak sekolah ini. Dengan gaya yang sama, pola interaksi yang mirip, hanya zaman yang sedikit berbeda. Duh. Lagi-lagi duh.

Lucu sekaligus malu. Saya pernah ileran. Pernah jajan. Pernah berasa own the world. Pernah ngomong gue elo. Eh, kalo yang itu sih masih sampai sekarang. Gue elo. Hehe.

Sudah ah, nanti lanjut ke cerita angkot episode kedua. Soal menatap masa depan. Penasaran, kan? Nanti lagi ya, minggu depan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 23, 2017 by in Life and tagged , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other followers

Still hungry? Please say YES.

Above.

#makassar #cityview #aerialview #sulawesiselatan #ujungpandang Yeay~ 
#fotokemarin #ujungpandang #makassar Above.

#makassar #ujungpandang #aerialview #sulawesiselatan Kembar identik. Itu pohon kembang apaan ya? Cakep ya matching sama bangunan belakangnya 💗

#bandung #artdeco #architexture #bandungwalkingtour #citytour #brightday Laper. Makan dulu. --
Ini roti srikaya andalan Purnama. Soft kenyel-kenyel gitu. Paling juara sih es kopinya. Enakan es kopi ini daripada Es Kopi Susu Tak Kie yang Glodok Jakarta. 
#bandung #coffeeshop #bandungwalkingtour #citytour #brightday #breakfast #breakfastlikeachampion #f52grams #warkoppurnama Di seberang adalah toserba pertama di kota Bandung. Sekarang ditempatin sama ocbc nisp. Demikian #sekilatinfo

#bandung #artdeco #architexture #bandungwalkingtour #citytour #brightday #ocbcnisp #kotakembang #kotakenangan Tempat nginepnya Charlie Chaplin sama delegasi KAA tahun 1955. ---
Ini gue gak ngerti gimana nangkep bentuk bangunan ini secara utuh. Lalu lintas depan #savoy padet, banyak kabel listrik, ruas jalan cukup 'sempit'. Mungkin harus pake drone atau pake lensa tele dari Bogor. Tapi minjem. Haha 
#bandung #artdeco #architexture #bandungwalkingtour #citytour #brightday #hotelsavoy In the corner. --- berhubung Senin depan mau pergi lagi, ya udah nge-spam aja deh. Gue gak ngerti sebenarnya gimana rang orang rajin dan sabar bisa keep pictures for later. Masalahnya...seminggu bisa motret dua tiga kali atau full week gitu. Ini masalah bukan sih, tauklah. 
#bandung #artdeco #architexture #bandungwalkingtour #citytour #brightday

Categories

Posted!

Blogs I Follow

NGENDONESIA

hanya obrolan kala senggang dalam bungkus tulisan

TIME

Current & Breaking News | National & World Updates

dianagustinaphotography

Let's smile and spread it to the world

Mikaila Acelin S

Stop wishing, start doing!

itsmydecember

the new journalist

Alief Workshop

Opini & Sharing Jujur dari Seorang Nubie

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

gelaph [dot] com

You'll Never Cherish Saturday If You Never Meet Monday

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: